Indonesia

Indonesia is the beautiful country in the universe

Kamis, 22 Desember 2011

Autobiografi Bung Karno_BAB XIII_Keluar Dari Penjara


BAB XIII
Keluar Dari Penjara


BELANDA telah menjalankan daya upaya untuk mencegah agar kebebasanku jangan menimbulkan pawai dari rakyat. Dimanamana diawasi oleh pasukan patroli. Agar tercapai maksud tersebut, maka jalanan di sekeliling rumahpun dikosongkan. Aku telah menyampaikan supaya bertindak lebih bijaksana menghadapi ini dan tidak mengadakan penyambutan secara besar besaran. Sungguhpun demikian Inggit dan beberapa ratus pengikut yang setia berbaris dengan rapi di pinggir jalan pada jam tujuh pagi yang cerah, ketika aku mengakhiri tugasku dengan masyarakat Belanda. Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk mengadakan selamatan, apabila seseorang keluar dari penjara.
 Bukan maksudku sebagai kebiasaan orang Indonesia bila keluar dari penjara saja. Yang kumaksud, segala kejadian — seperti dalam hal perkawinan, kenaikan kedudukan, anak lahir, ya, malah keluar dari penjarapun — ditandai oleh suatu pesta kedamaian. Karena itu penyesuaian diriku kepada masyarakat ramai hampir tidak dapat dilakukan secara berangsurangsur. Dari kakus yang gelap dan sepi langsung melompat ke rumah Inggit, tempat bayar makan yang ribut.
Peristiwa itu menggembirakan sekali dan aku dikuasai oleh perasaan haru. Akan tetapi harus kuakui, di saat itu yang pertamatama kuinginkan bukanlah pesta yang gembira atau alas tempattidur sutera yang mentereng maupun mandi yang enak, tak satupun dari kesenangan itu. Yang pertamatama kuinginkan adalah seorang perempuan. Akan tetapi walaupun bagaimana, rupanya kehendak ini terpaksa mengalah dulu. Karena soalsoal sekunder lebih mendesak kemuka.
 Ratusan orang datang menyerbu siang dan malam hendak melihat wajahku. Di malam itu, kawanku Bung Thamrin menyatakan kepadaku, "Mata Bung Karno menyinarkan cahaya baru."
"Tidak," jawabku. "Mata saya menonjol karena saya semakin kurus. Kalau muka kurus, mata kelihatan cekung."
"Tidak," ia menegaskan., “Mata Bung jadi sangat besar. Biar gemuk sekalipun dia tetap bersinar menyala nyala. Saya melihat ada cahaya baru di dalamnya."
"Entahlah," jawabku, "Saya hanya merasa bahwa saya betulbetul dikuasai oleh suatu semangat."
Pidatoku yang paling terkenal yang pernah kuucapkan selama hidupku adalah pidato yang kusampaikan
di malam berikutnya. Aku berangkat ke Surabaya dengan kereta ekspres untuk menyampaikan kepada Kongres Indonesia Raya supaya mereka tetap membulatkan tekad, oleh karena Bung Karno sekarang sudah kembali lagi dan sudah siap untuk berjuang di sisi mereka dan untuk mereka. Dengan mata yang berlinanglinang, aku mengakhiri pidato itu dengan menyatakan "Kecintaanku terhadap tanah air kita yang tercinta ini belumlah padam. Pun tidak ada maksudku untuk sekedar membikin roman dan bersain,Tidak. Tekad saya hendak berjuang. Insua Allah, di satu saat kita akan bersatu kembali".
 Menghukum Sukarno berarti menghukum seluruh pergerakan. Belanda mengetahui hal ini. Ketika aku masuk penjara Sukamiskin, P.N.I. dengan resmi dinyatakan sebagai partai terlarang. Kemudian, wakilwakilku mendirikan Partai Indonesia, yang disingkat Partindo, akan tetapi pergerakan itu tetap tidak berdaya. Kegiatannya terbatas, jarang mengadakan pertemuanpertemuan dan kalaupun diadakan, sedikit sekali dikunjungi orang, karena tidak adanya tokoh yang menjadi lambang kekuatan. Karena tidak adanya kepemimpinan yang kuat dan bersifat menentukan, maka dua orang tokoh berpendidikan Negeri Belanda yaitu Sutan Syahrir dan Hatta, tidak menyetujui caracara bergerak dari kawankawan seperjuangannya. Maka timbullah pertentangan antara pengikut Hatta dengan pengikut Sukarno.
Akibatnya adalah perpecahan yang tak dapat dihindarkan. Aku memerintahkan Maskun dan Gatot, yang dibebaskan beberapa bulan sebelumku, untuk membenteng jurang yang timbul itu. Mereka tak sanggup. Maskun lalu mengirimkan pesan ke dalam penjara, "Saya terlalu muda. Saya tidak dapat melakukannya." Gatot kemudian memberi kabar lagi, "Kami berdua terlalu kecil untuk dapat melakukan pekerjaan ini. Lebih baik kami tunggu empat bulan lagi sampai Bung Karno keluar."
Segera setelah aku keluar dari penjara, ketika anggotaanggotaku yang lama meminta supaya aku memasuki Partindo, aku menolak. "Tidak," kataku dengan tegas. "Pertama saya harus berbicara dengan Hatta dulu. Saya ingin mendengar isi hatinya". Mereka menyatakan kepadaku, "Rakyat akan mengikuti kemana Bung Karno pergi. Apakah mungkin Bung mengikuti Pendidikan Nasional Indonesia, partai dari Bung Hatta?"
"Tidak ada pikiranku untuk mengikuti salah satu pihak, saya lebih condong untuk menempa keduaduanya kembali menjadi satu. Dua partai adalah bertentangan dengan keyakinanku untuk persatuan. Perpecahan ini hanya menguntungkan pihak lawan."
Aku bertemu dengan pihak yang bertentangan di rumah Gatot tidak lama setelah aku bebas. "Baiklah saudarasaudara, sekarang apa sesungguhnya yang menjadi perbedaan pokok kita," kataku ketika kami bertemu pertamakali.
“Dengan cara Bung Karno, partai tidak akan bisa stabil," Hatta mengemukakan, seorang yang berlainan samasekali denganku dalam sifat dan pembawaan. Bung Hatta adalah seorang ahli ekonomi dalam segi dagang dan pembawaannya. Saksama, tidak dipengaruhi oleh perasaan, pedantik. Seorang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam, cara berpikirnya masih saja menurut bukubuku, mencoba menerapkan rumusrumus ilmiah yang tidak dapat dirubah ke dalam suatu revolusi. Seperti biasa ia langsung memasuki pokok persoalan tanpa omong iseng secara berolokolok sebelumnya. "Pada waktu Bung Karno dengan ketiga orang kawan kita lainnya masuk penjara, seluruh pergerakan berceraiberai. Saya mempunyai ide untuk mengadakan suatu inti dari organisasi yang akan melatih kader yang digembleng dengan citacita kita."
"Apa gunanya kader ini? Bukankah lebih baik kita mendatangi langsung rakyat jelata dan membakar hati mereka, seperti selama ini telah saya kerjakan?"
"Tidak," katanya. "Konsepsi saya kita menjalankan perjuangan melalui pendidikan praktis untuk rakyat, ini lebih baik dari pada kita bekerja atas dasar daya penarik pribadi dari satu orang pemimpin. Dengan jalan demikian, kalau para pemimpin atasan tidak ada, partai akan tetap berjalan dengan pimpinan bawahan yang sudah sadar betulbetul untuk apa kita berjuang. Dan menurut gilirannya, mereka akan menyampaikan citacita ini kepada generasi yang akan datang, sehingga untuk seterusnya banyak tenaga yang akan melanjutkan citacita kita. Kenyataannya sekarang, kalau tidak ada pribadi Sukarno maka tidak ada partai. Ia terpecah sama sekali oleh karena tidak adanya kepercayaan rakyat kepada partai itu sendiri, yang ada hanya kepercayaan terhadap Sukarno."
"Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahuntahun, Bung Hatta. Jalan yang Bung tempuh baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat," kataku.
"Kemerdekaan tidak akan tercapai selagi saya masih hidup" katanya mempertahankan. "Tapi setidak tidaknya cara ini pasti. Pergerakan kita akan terus berjalan selama bertahuntahun."
"Siapakah yang akan jadi pimpinan Bung? Bukukah? Kepada siapakah jutaan rakyat akan berpegang? Kepada katakatakah? Tidak seorangpun dapat digerakkan oleh katakata. Kita tidak mungkin memperoleh kekuatan dengan katakata dalam buku pelajaran. Belanda tidak takut pada katakata itu. Mereka hanya takut kepada kekuatan nyata, yang terdiri dari rakyat yang menggerumutinya seperti semut. Mereka tahu, bahwa dengan jalan mencerdaskan rakyat kekuasaan mereka tidak akan terancam. Memang dengan mencerdaskan rakyat kita terhindar dari penjara, akan tetapi kita juga akan terhindar dari kemerdekaan."
"Rakyat akan mentertawakan Bung Karno kalau masuk penjara sekali lagi," jawab Hatta. " Rakyat akan mengatakan: Itu salahnya sendiri. Kenapa Sukarno selalu mempropagandakan Indonesia Merdeka, sedang dia tahu bahwa Belanda akan menyetopnya. Dia itu gila. Jadi perjuangan untuk kemerdekaan masih akan memakan waktu bertahuntahun lagi. Rakyat harus dididik dulu kearah itu."
Hatta tidak berkisar setapakpun dan dengan hati yang tawar aku meninggalkan pertemuan yang berlangsung selama beberapa jam itu Perbedaan kami seperti siang dan malam, dan Hatta sama sekali tidak berubah pendiriannya. Masih aku mencoba untuk menghilangkan keretakan ini. Selama beberapa bulan aku mencoba. Pada pertemuan kami selanjutnya Hatta mengatakan, "Saya hendak memberikan janji kepada para pengikut kita. Kalau Belanda menghalanghalangi generasi kita ini untuk bergerak — dan tiap gerakan selanjutnya daripada para pemimpin nasionalis tentu akan mendapat balasan yang demikian— maka tak usahlah generasi kita ini bergerak lagi. Sebagai gantinya kita mengajar para intellektuil yang mudamuda yang pada satu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan ajaranajaran kita dan yang nanti di belakang hari akan membawa kita kepada kemerdekaan. lni adalah jandji kepada tanah air kita. Ia merupakan soal prinsip. Soal kehormatan."
Aku tak pernah mengerti sama sekali perkara tetek bengek secara intellektuil yang khayal ini. Hatta dan Syahrir tak pernah membangun kekuatan. Apa yang mereka kerjakan hanya bicara. Tidak ada tindakan, hanya bersoal tentang tanya jawab. Aku mencoba usaha yang terakhir.
"lni adalah peperangan," kataku. "Suatu perjuangan untuk hidup. Ini bukanlah soal keteguhan pendirian dengan generasi yang akan datang ataupun suatu kehormatan bagi sisa dari pergerakan, sehingga tingkatan yang lebih bawah dapat memegang tegak prinsipprinsip yang telah dikurangi setelah para pemimpin mereka masuk bui. Kehormatan tidaklah pada tempatnya dalam perjuangan matimatian ini. Ini adalah sematamata persoalan kekuatan. Di saat Bung Hatta dan Sjahrir maju terus dengan usaha pendidikan pada waktu itu pula kepala saudarasaudara akan dipukul oleh musuh.
"Politik adalah machtsvorming dan machtsaanwending — pembentukan kekuatan dan pemakaian kekuatan. Dengan tenaga yang terhimpun kita dapat mendesak musuh ke pojok dan kalau perlu menyerangnya. Mempersiapkan teori dan membuat keputusan kebijaksanaan penting yang berasal dari bukubuku tidaklah praktis. Saya kuatir, Hatta, saudara berpijak diatas landasan revolusioner yang khajal."
Pada tahuntahun duapuluhan, antara kami telah terdapat keretakan ketika aku menjadi eksponen utama dari nonkooperasi, sedang dia sebagai eksponenutama dengan pendirian bahwa kerjasama dengan Pemerintah tidak menjadi halangan untuk mencapai tujuan. Hatta dan aku tak pernah berada dalam getaran gelombang yang sama.
 Cara yang paling baik untuk melukiskan tentang pribadi Hatta ialah dengan menceritakan tentang kejadian di suatu sore, ketika dalam perjalanan ke suatu tempat dan satu satunya penumpang lain dalam kendaraan itu adalah seorang gadis yang cantik. Di suatu tempat yang sepi dan terasing ban pecah. Jejaka Hatta adalan seorang yang pemerah muka apabila bertemu dengan seorang gadis. Ia tak pernah menari, tertawa atau menikmati kehidupan ini. Ketika dua jam kemudian supirnya kembali dengan bantuan ia mendapati gadis itu berbaring enak di sudut yang jauh dalam kendaraan itu dan Hatta mendengkur di sudut yang lain. Ah, susah orangnya.
 Kami tak pernah sependapat mengenai suatu persoalan. Pada tanggal 28 Djuli 1932, aku memasuki Partindo dan dengan suara bulat terpilih sebagai ketua. Pergerakan ini hidup kembali. Sebagai pemimpin partai aku mendapat 70 rupiah sebulan. Dan sebagai Pemimpin Besar Revolusi di masa yang akan datang, aku memperoleh kemajuan dalam segala hal. Pun dalam menonton film. Sekarang aku duduk di muka layar putih. Maskun dan aku juga mendapat penghasilan sedikit dalam memimpin bersamasama koran partai, "Pikiran Rakjat", yang diselenggarakan di rumahku. Kemudian ada lagi orang yang bayar makan. Sudah tentu orangorang seperti Maskun tidak bayar. Bagaimana aku bisa minta uang makan daripadanya? Dia kawanku. Aku bahkan memperkenalkannya kepada isterinya. Kuingat betul di hari perkawinannya akupun mengadakan pidato politik. Penganten baru ini tidak berbulan madu kecuali mungkin di bawah pohon kayu di suatu tempat, karena segera setelah perkawinan mereka tinggal dengan Inggit dan aku. Bukanlah menjadi kebiasaan anak gadis Indonesia untuk berteriak bila orang mengadakan percintaan dengan gadis itu. Dan karena kami tidak mempunyai kasur di harihari itu, jadi tidak ada yang akan berderakderik. Karena itu, sungguhpun kamar kami hanya dipisahkan oleh dinding bilik, kami tidak terganggu satu sama lain.
Dengan Ir. Rooseno aku mendirikan biro arsitek lagi. Kami mengalami masa yang sulit dengan biro arsitek ini, karena orang lebih menyukai arsitek Tionghoa atau Belanda dan tidak akan menemui kesulitan dengan kedua bangsa ini. Sewa kantor kami 20 rupiah. Telpon 7l/2 rupiah. Jadi setidaktidaknya kami harus mendapatkan 271/2 rupiah setiap bulan. Akan tetapi seringkali kami tidak menerimanya.
Penghasilan Rooseno yang terutama didapatnya dari mengajar. Oleh karena kantongnya selalu lebih penuh daripada kami, kebanyakan pengeluaran kami terpaksa bergantung kepadanya. Sekali sebulan aku muncul untuk menanyakan bagian keuntunganku. Karena aku mencukupi kebutuhanku dari kantongnya, aku akan bertanya, "Berapa kau berutang padaku?" Dan dia akan menjawab, "Bagian Bung 15 rupiah."
Kataku, "Baik." Aku tidak pernah memeriksanya. Apa yang dikatakannya aku percaya saja. Kami mengadakan pembagian kerja yang adil dan cukup beralasan. Rooseno menjadi insinyur kalkulatornya.
Dia mengerjakan soalsoal detail. Dia yang membuat perhitungan dan kalkulasi dan mengerjakan perhitungan ilmu pasti yang sukar itu. Sebagai arsitek seniman aku mengatur bentukbentuk yang baik dari gedunggedung. Sudah tentu tidak banyak perlu diatur, akan tetapi sekalipun demikian ada beberapa buah rumah yang kurencanakan sendiri dan sekarang masih berdiri di Bandung.
Rencanaku bagusbagus. Tidak begitu ekonomis akan tetapi indah. Aku tidak begitu memikirkan bendabenda duniawi seperti uang. Hanya orangorang yang tidak pernah menghirup apinya nasionalisme yang dapat melibatkan dirinya dalam soalsoal biasa seperti itu. Kemerdekaan adalah makanan hidupku. Ideologi. Idealisme. Makanan daripada jiwaku. Inilah semua yang kumakan. Aku sendiri hidup dalam kekurangan, akan tetapi apa salahnya? Mendayungkan partaiku dan rakyatku secara bersamasama ke pulau harapan, untuk itulah aku hidup.
Sesuai dengan citacita dari P.N.I., partaiku yang lama, tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin berpakaian, maka anggotaanggota mengumpulkan uang untuk mengadakan pakaian untukku. Ganti kain katun atau linnen, Sukarno tibatiba diberi kain shantung Ganti kemeja sport dengan leher terbuka, Sukarno mulai memakai dasi yang bagus. Pergerakan kami begitu percaya padaku, sehingga pakaian ini diusahakan mereka secara sukarela.
Aku teringat baju suteraku yang pertama. Pembelinya bernama Saddak. O. dia sungguhsungguh memujaku. Ini seperti yang dikatakan oleh Injil, "Yang kaya jiwanya membantu yang miskin dalam satu persaudaraan yang besar." Aku memberi mereka keberanian. Mereka memberiku pakaian —atau uang. Di pagi hari aku keluar dari penjara sebagai seorang bebas, seorang lakilaki yang belum pernah kulihat sebelumnya, menggenggamkan kepadaku dengan begitu saja uang empat ratus rupiah, lain tidak karena aku tidak mempunyai uang. Pada waktu sekarang orang ini, yang bernama Dasaad , adalah seorang kapitalissosialis yang paling kaya di Indonesia dan kawanku yang rapat. Akan tetapi, pada waktu ia menyodorkan rejeki yang kecil itu kepadaku, ia tak mengharapkan akan memperolehnya kembali.
Seingatku ia tak pernah menerima uang itu kembali. Aku masih saja meminjamminjam kepadanya. Dalam masa ini aku menyadari untuk lebih berhatihati dengan ucapanucapanku. Pengaruhku terhadap rakyat sudah tumbuh sedemikian, sehingga kalau aku berkata, "Makan batu", mereka akan memakannya. Kukira ini timbul disebabkan karena apa yang kuucapkan dengan keras sesungguhnya adalah apa yang mereka sendiri pikirkan dan rasakan dalam hati sanubarinya. Aku merumuskan perasaanperasaan yang tersembunyi dari rakyatku menjadi istilahistilah politik dan sosial, yang tentu akan mereka ucapkan sendiri kalau mereka dapat. Aku menggugat yang tua tua untuk mengingat kembali akan penderitaan penderitaannya dan melenyapkan penderitaanpenderitaan itu. Aku menggugat para pemuda untuk memikirkan nasib mereka sendiri dan bekerja keras untuk masa depan. Aku menjadi mulut mereka.
Sebagai pemuda aku mulamula mengisap katakata yang tertulis dari negarawannegarawan besar di dunia, kemudian kuminum ucapanucapan dari para pemimpin besar dari bangsa kami, lalu menggodok semua ini dengan falsafah dasar yang digali dari hati rakyat Marhaen. Sukarno, Telinga Besar dari rakyat Indonesia, lalu menjadi Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia. Aku berbicara kapan saja dan dimana saja. Di dalam dan di luar. Di bawah teriknya sinar matahari dan di musim hujan. Pada suatu kali air hujan sudah sampai ke mata kakiku dan oleh karena banyak tempat yang tidak bisa ditempuh, maka aku baru sampai jam tiga pada rapat yang seharusnya diadakan mulai jam sembilan pagi. Rakyat yang sudah berceraiberai berkerumun lagi, berdiri dengan berpayung daun pisang dan lainlain yang dapat dipakai sebagai pelindung kepala.
 Pada suatu saat cuaca demikian buruknya, sehingga sekalipun pakai jas hujan aku basah kuyup oleh air yang mencucur dari langit. Di waktu itulah aku mengajak, "Nah, sekarang, untuk memanaskan badan kita bagaimana kalau kita menyanji bersamasama?" Di selasela petir yang menggemuruh terdengarlah satu suara mengikutiku. Kemudian yang lain. Lalu ratusan suara berpadu. Dan tidak lama antaranya menggemalah 20.000 suara menjadi satu paduan yang gembira. Di lapangan terbuka yang sederhana ini di Jawa Tengah maka nyanyiannyanjian rakyat mengikat kami menjadi satu, ikatannya lebih erat daripada rantai besi.
Ketika hujan semakin reda, aku mengakhiri wejanganku. Tak seorangpun yang meninggalkan tempat itu. Salah seorang pengikut kemudian setelah itu memberikan komentarnya, "Ini adalah suatu kejadian yang tidak dapat dilakukan oleh orang sematamata. Bakat yang demikian itu terletak Antara Bung dan alam."
Kusampaikan kepadanya, "Sebabnya ialah karena ini bukanlah kemauan saya pribadi untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ia adalah kemauan Tuhan. Saya menjalankan katakata Tuhan. Untuk pekerjaan inilah saya dilahirkan.''
Pada waktu sekarang, orangorang antiSukarno tertawa mengejek bahwa segala sesuatu diatur terlebih dulu untuk Sukarno sebelum ia memperlihatkan diri. Aku hanya mengatakan, memang benar bahwa rakyat berjejaljejal di kiri kanan jalan kalau Bapak akan berpidato. Juga adalah benar, bahwa orang dapat memaksa seseorang untuk berdiri akan tetapi ia tidak akan dapat dipaksa untuk tersenyum dengan penuh kepercayaan atau memandang dengan perasaan kagum atau melambai kepadaku dengan gembira.
Aku meminta kepada manusia umumnya untuk menyelidiki mukamuka yang menengadah dari rakyatku kalau aku berpidato. Mereka melihat tersenyum kepadaku. Mendo'akan, Mencntaiku. Ini semua tidak dapat dipaksakan oleh pemerintah. Pemerintah tidak dapat memaksa mereka untuk berbuat demikian seperti pemerintah Hindia Belanda tidak dapat menyuruh mereka BERHENTI tersenyum kepadaku di masa tahuntahun tiga puluhan.
Dengan tibatiba semangat nasional menjalari seluruh tanah air. Dengan tibatiba keinginan merdeka menular kembali. Aku berpidato di Solo di mana puteriputeri dari kraton yang cantikcantik pada keluar untuk mendengarkanku. Wanitawanita yang dipingit, dimuliakan dan yang halus ini begitu tertarik sehingga salah seorang yang hamil memukulmukul perutnya berkalikali dan mendengungkan, "Saya ingin seorang anak seperti Sukarno." Mendadak aku mendapat ilham. Aku menyerahkan kepada mereka beberapa peci dan meminta mereka berkeliling dalam lautan manusia itu mengumpulkan uang untuk pergerakan kami. Ah, Bung, sungguh menggemparkan.
Aku malahan mencaplok terhadap Belanda. Seorang pemuda bernama Paris menjadi muridku dan pindah sama sekali ke pihak kita. Pada kesempatan lain aku mengadakan rapat di Gresik Jawa Timur. Patih di tempat itu juga hadir. Sebagai seorang pejabat kolonial, adalah menjadi kewajibannya yang tak dapat disangkal lagi untuk memeriksaku dengan saksama dan melaporkan kegiatanku.
Orang yang sangat baik hati ini berdiri mendengarkan pidatoku dengan sungguhsungguh dan dengan seluruh hatinya. Tanpa berpikir dia lupa pada dirinya sendiri dan dengan bersemangat turut bersorak dan bertepuk
mendengarkan pidatoku. Di antara orang banyak itu terdapat juga Van der Plas, Direktur Urusan Bumi putera. Dan itulah kami. Kamilah orang Bumiputera. Pekerjaan Van der Plas adalah untuk mengawasi orangorang yang mengawasi kami, termasuk patih itu. Patih itu seketika juga diperhentikan. Timbullah pertengkaran yang hebat di dalam Dewan Rakyat.
Thamrin mencoba untuk mempertahankannya. Dia mengemukakan alasan, "Apa salahnya dia turut bersorak? Bukankah dia orang Indonesia? Mengapa dia harus dilarang untuk bertepuk dan bersorak? Mengapa dia harus kehilangan jabatan tanpa diberi kesempatan untuk mempertahankan dir ?"
Thamrin mencoba dengan gagah berani, sekalipun demikian patih itu tetap kehilangan jabatannya. Ini adalah jabatan yang penting dan dia orang yang penting. Orang yang baik hati ini mempunyai anak dan isteri yang harus ditanggungnya. Akupun susah memikirkannya. Polisi mulai memperkeras jaringjaring mereka. Suratsurat kabar ketika itu penuh dengan berita pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien, yaitu sebuah kapal perang yang para opsirnya terdiri dari Belanda dan orangbawahannya orangorang Indonesia.
 Belanda, karena mengetahui tentang caraku mempergunakan suatu keadaan. Pada waktunya, mengeluarkan larangan untuk mengadakan pembicaraan secara terbuka mengenai peristiwa ini, takut kalau hal ini akan merangsang rakyat untuk bangkit dan memberontak. Persoalanku adalah, bagaimana caranya untuk menerangkan situasi itu dengan baik dalam pidato berikutnya. Tangan polisi sudah gatalgatal untuk melemparkanku keluar panggung. Mereka tegang dan gelisah. Kamipun tegang dan gelisah. Kami mengatur acara sehingga aku menjadi pembicara pertama. Ini maksudnya untuk membikin bingung polisi, yang tentu tidak akan menyangka bahwa aku akan memberanikan diri untuk menggelorakan lima menit pertama dari rapat tersebut. Dengan jalan ini, sekalipun mereka akan menghentikan rapat kami, aku telah menyampaikan pesanpesanku dan rakyat tentu sudah akan puas melihatku.
 Jadi, berdirilah aku dan langsung berbicara tentang peristiwa kapal Zeven Provincien itu. Polisi langsung bertindak terhadapku. Dan pertemuan itu segera ditutup. Aku kembali lagi ke tempat dimana aku berada. Nomor satu dalam daftar hitam mereka, seperti aku takkan lepaslepas dari daftar itu. Para pembesar mengeluarkan perintah tentang barang siapa yang membaca "Fikiran Rakyat" atau memakai peci akan dikenakan tahanan.
Kemudian aku menulis brosur yang bernama "Mencapai Indonesia Merdeka". Brosur tersebut dianggap sangat menghasut, sehingga ia dirampas dan dinyatakan terlarang segera setelah ia mulai beredar. Banyak yang di sita. Rumahrumah digeledahi. Kumpulan yang terdiri dari lebih dari tiga orang dikepung. Perangkap diperkeras.
Tanggal satu Agustus kami mengadakan pertemuan pimpinan dirumah Thamrin di Jakarta. Pertemuan ini selesai sudah lewat tengah malam. Ketika aku turun rumah menuju jalan raya, di sana sudah berdiri seorang Komisaris Polisi, menungguku dengan tenang di depan rumah. Kejadian ini adalah pengulangan kembali dari penangkapan yang terdahulu. Dia rnengucapkan katakata yang sama, "Tuan Sukarno, atas nama Sri Ratu saya menangkap tuan."

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More